Cerita Hari Minggu

April 6, 2008 at 4:46 pm | In MY MIND | 3 Comments

kota budaya.... kota budaya...

brand yang besar tapi sembarang huh..

Pada hari minggu ku turut ayah kekota… Naik delman istimewa kududuk di muka… Disamping pak kusir yang sedang berkerja… Mengendarai kuda supaya baik jalannya…
(lirik lagu anak2 yang dulu waktu kecil aku sering dendangkan)
Semasa kecil memang seperti itu namun kini  lirik lagu itu sudah ndak relevan lagi buatku sebab aku sudah beranjak dewasa dan aku sekarang tinggal di kota

Hari minggu pagi diawal bulan april aku jalan-jalan di UGM…(hihi tumben banget saya bisa bangun pagi). Dengan membawa kamera digital dan kamera film aku momotret aktifitas disana dan berlagak seperti fotografer kondang, jepret sana jepret sini dan lirikan maut dari wanita cantik pun ku dapat yang sedang melintas didepanku. Semakin lama semakin aku bergaya yang membuah hasilkan senyuman dan lambaian tangan dari wanita-wanita cantik dengan ekspesi seperti foto di fotobox yang berada di mall-mall.

Berbunga-bunga hati ku dengan pemandangan wanita-wanita cantik bertebaran bak mentari pagi menyinari bumi. Kebanyakan dari mereka menggunakan celana pendek yang memang lagi ngetren,  tentu aku senang bisa melihat paha-paha putih dan betis yang bersih, banyak pula yang murah senyum, tak terpancar dari raut wajah mereka kerutan kecemasan.  Oooh alangkah indah pemandangan yang kudapat ini.

Tak terasa sudah 2 jam aku berada disana dengan perasaan seperti itu… dan kuputuskan untuk pulang dengan perasaan riang gembira. Namun di tengah perjalanan, mulanya aku melihat famplet yang di tempel pada sebuah tiang lampu jalan yang berjumlah 4 buah dengan bentuk lusuh dan berantakan. Sambil lalu ku berjalan di atas sepeda motorku merk pasaran, ku temui lagi seperti itu dan lagi dan lagi. Lalu kepekaan ku mulai muncul untuk meneliti, Apakah ada banyak famplet yang di tempel sembarang tempat? Itu pertanyaan yang ada di otakku saat itu.

Kuputuskan untuk mengambil gambar famplet-famplet yang membuat perasaan badmood
Masih banyak fample yang di pasang sembarang. Paling banyak di area lampu merah… sepanjang jalan affandi (jln gejayan) itu paling parah hampir tiap tiang ada famplet sampah.

Sial, malah aku sampe rumah bukannya keceriaan yang ku dapat dari wanita-wanita cantik tadi malah otakku di hiasi dengan pertanyaan-pertanyaan mengapa? Bagaimana? siapa yang salah? Peraturan gimana? saksi apa? dan seandainya aku?

& Komentar »

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik

  1. Menurut sepemahaman saya sih (maaf sebelumnya), yang benar itu adalah pamflet, bukan famplet

    tulisannya bagus mas, ngajak orang berpikir
    piss

  2. wakakaka..dah ga usah dipikirin ;)

    btw..mau minta tolong apa nih?? kapan saja saya siap ;)

  3. wakakaka..dah ga usah dipikirin ;)

    btw..mau minta tolong apa nih?? kapan saja saya siap ;)


Tinggalkan komentar

XHTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.